Sudah Punya Instagram, Masih Perlu Website Nggak?
Ini pertanyaan yang paling sering saya terima, dan biasanya nadanya agak ragu: "Mas, saya udah punya Instagram, followers-nya lumayan, orderan juga masuk dari situ. Masih perlu website nggak sih?"
Jawaban jujur saya: belum tentu perlu. Serius. Kalau Instagram Anda jalan dan orderan masuk, itu bukan masalah yang harus buru-buru dibetulkan. Saya nggak mau jualan dengan cara bikin Anda merasa ketinggalan.
Tapi ada beberapa hal yang memang nggak bisa dikerjakan Instagram, dan biasanya baru kerasa waktu usahanya mulai tumbuh. Itu yang mau saya bahas di sini, apa adanya.
Yang Instagram Memang Lebih Jago
Saya mulai dari yang jujur dulu: buat sebagian hal, Instagram menang telak dan website nggak bisa nyaingin.
- Ditemukan orang baru. Algoritma Instagram bisa nyodorin dagangan Anda ke orang yang belum kenal Anda sama sekali. Website nggak bisa gitu, dia nunggu didatangi.
- Ngobrol dan bangun kedekatan. Balas komentar, bikin story, bales DM. Ini bikin orang percaya, dan website nggak punya suasana kayak gini.
- Gratis dan cepat. Nggak perlu modal, nggak perlu nunggu siapa-siapa.
Jadi kalau ada yang bilang "medsos doang nggak cukup, harus punya website", itu terlalu buru-buru. Buat banyak usaha kecil, Instagram itu memang mesin utamanya.
Yang Instagram Nggak Bisa Kerjain
Nah, ini bagian yang biasanya baru kerasa belakangan.
1. Orang yang nyari Anda di Google nggak nemu
Coba bayangin. Ada orang di Jogja lagi butuh jasa yang Anda tawarkan. Dia nggak kenal Anda, jadi dia buka Google, bukan Instagram. Dia ketik "jasa laundry dekat sini" atau "catering murah Jogja".
Yang muncul di situ adalah usaha yang punya alamat sendiri di internet. Akun Instagram jarang banget nongol di hasil pencarian buat kata kunci kayak gitu. Jadi calon pelanggan yang niatnya udah mateng, yang tinggal milih, itu nggak pernah ketemu Anda.
Ini beda banget sama orang yang scroll Instagram. Yang scroll itu belum tentu mau beli. Yang nyari di Google itu lagi butuh sekarang. Saya bahas lebih detail soal ini di tulisan cara usaha Anda muncul di Google Maps.
2. Anda numpang, bukan punya
Akun Instagram Anda itu punya Meta, bukan punya Anda. Selama ini aman-aman aja, dan kemungkinan besar bakal terus aman. Tapi akun kena hack, kena suspend salah sistem, atau tiba-tiba nggak bisa diakses itu kejadian nyata, dan waktu itu terjadi, Anda kehilangan semuanya sekaligus: etalase, riwayat chat, kontak pelanggan.
Nggak ada nomor CS yang bisa Anda telpon. Anda cuma bisa nunggu.
Ini alasan yang sama kenapa saya keras soal domain dan server harus atas nama klien, bukan atas nama saya. Aset yang Anda bangun bertahun-tahun sebaiknya benar-benar Anda yang pegang.
3. Informasi lengkap susah ditaruh
Harga, daftar layanan, alamat, jam buka, cara pesan, syarat dan ketentuan. Di Instagram semua itu nyempil di bio yang cuma 150 karakter, atau kekubur di postingan tiga bulan lalu, atau numpuk di highlight yang orang males buka.
Akibatnya Anda ngetik hal yang sama berulang-ulang di DM. Tiap hari. "Harganya berapa ya kak?" Padahal itu pertanyaan yang bisa dijawab sekali, ditaruh di satu halaman, dan selesai.
4. Kelihatan resmi atau nggak
Ini soal perasaan, tapi ngaruh. Waktu Anda kirim penawaran ke perusahaan, atau ada calon klien yang lumayan gede nanya profil usaha Anda, ngirim link Instagram itu rasanya beda sama ngirim namausaha.com.
Bukan berarti Instagram nggak profesional. Tapi punya alamat sendiri itu ngasih sinyal bahwa usaha Anda serius dan bukan musiman. Buat pelanggan yang baru pertama kali kenal Anda, sinyal kecil kayak gini nolong.
Jadi Kapan Mulai Butuh Website?
Ini patokan jujur saya, dari ngobrol sama banyak pemilik usaha:
Anda kemungkinan belum butuh, kalau:
- Usaha baru mulai dan masih nyari bentuk
- Orderan masih kekejar dibales manual satu-satu
- Pelanggan Anda datang dari mulut ke mulut dan medsos
Anda mungkin mulai butuh, kalau:
- Anda capek ngetik jawaban yang sama tiap hari di DM
- Anda mulai kehilangan calon pelanggan yang nyari di Google
- Anda mau nerima pesanan yang lebih terstruktur, bukan numpuk di DM
- Anda mau kirim penawaran ke klien yang lebih besar
- Anda mulai kepikiran "kalau akun saya kenapa-kenapa, gimana?"
Kalau Anda baca daftar kedua dan ngangguk-ngangguk, ya mungkin waktunya. Kalau nggak, ya nggak apa-apa, seriusan.
Bukan Pilih Salah Satu
Ini yang sering salah dipahami. Website itu bukan pengganti Instagram. Keduanya kerja bareng, cuma beda tugas.
Instagram tugasnya bikin orang kenal Anda. Website tugasnya nampung orang yang udah niat. Instagram narik perhatian, website ngubah perhatian jadi pesanan.
Alurnya biasanya gini: orang lihat postingan Anda, tertarik, klik link di bio, mendarat di website, di situ dia lihat harga dan contoh hasil kerja dengan tenang tanpa harus DM dulu, terus dia tekan tombol WhatsApp dan chat Anda dengan pertanyaan yang jauh lebih mateng.
Jadi Instagram tetap jalan. Websitenya cuma bikin kerjaan Instagram Anda nggak kebuang. Soal alur pesanan yang langsung masuk ke WhatsApp, saya jelasin lebih rinci di tulisan ini.
Mulai dari Kecil Aja
Kalau Anda mutusin butuh, nggak usah langsung mikir yang gede-gede. Satu halaman yang isinya profil usaha, layanan, harga, foto, lokasi, dan tombol WhatsApp itu udah nutup 90% kebutuhan usaha kecil. Itu juga paket paling murah di tempat saya, dan biasanya jadi dalam beberapa hari aja.
Nambah halaman, nambah galeri, nambah panel biar Anda bisa update sendiri, itu bisa nyusul kapan-kapan waktu memang udah kerasa perlu. Nggak usah bayar di depan buat sesuatu yang belum tentu Anda pakai.
Anda bisa lihat rincian harganya terbuka di halaman depan, nggak ada yang saya sembunyiin. Atau kalau masih ragu website-nya bakal kepakai atau nggak, cerita aja dulu ke saya soal usahanya. Nanti saya kasih pandangan jujur, termasuk kalau menurut saya Anda memang belum perlu.
Butuh website untuk usaha Anda?
Saya bantu dari desain, bikin, sampai online dan dirawat. Mulai Rp 1.500.000, transparan tanpa biaya kaget.